<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>::: Rafki Rasyid.com &#187; Islam</title>
	<atom:link href="http://rafkirasyid.com/tag/islam/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://rafkirasyid.com</link>
	<description>Celoteh Ekonomi, Manajemen, Dan Teknologi</description>
	<lastBuildDate>Thu, 05 Apr 2012 02:28:38 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Ukurlah Dengan Iman</title>
		<link>http://rafkirasyid.com/ukurlah-dengan-iman/</link>
		<comments>http://rafkirasyid.com/ukurlah-dengan-iman/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 31 May 2009 16:10:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rafki Rasyid</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ragam]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rafkirasyid.com/?p=1342</guid>
		<description><![CDATA[Bagaimana seseorang mengarungi hidup jika tanpa iman? Kesibukan, bagi orang yang tak memiliki iman, adalah menapaki keinginan yang tak pernah selesai. Menjalani waktu, sejak pagi, siang, petang, malam hingga bertemu pagi kembali, bagi orang yang tak memiliki iman, adalah ibarat mengarungi belantara hutan yang tak pernah ada ujungnya, atau menyeberangi lautan luas yang tak pernah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bagaimana seseorang mengarungi hidup jika tanpa iman? Kesibukan, bagi orang<br />
yang tak memiliki iman, adalah menapaki keinginan yang tak pernah selesai.<br />
Menjalani waktu, sejak pagi, siang, petang, malam hingga bertemu pagi<br />
kembali, bagi orang yang tak memiliki iman, adalah ibarat mengarungi<br />
belantara hutan yang tak pernah ada ujungnya, atau menyeberangi lautan luas<br />
yang tak pernah bertepi. Mereka terus bergelut dengan ambisi, memenuhi<br />
keinginan nafsu, sementara itu semua tidak pernah membuat lapar dan<br />
dahaganya berkurang.</p>
<p>Wajar, jika tak sedikit orang yang merasa lelah menjalani hidup. Ya, mereka<br />
lelah karena ternyata seluruh keringat, pikiran dan usahanya tak pernah<br />
membuatnya merasa cukup. Semakin banyak usaha yang diperoleh, semakin tinggi<br />
tuntutan untuk memperoleh yang lebih banyak. Peluh yang menetes temyata<br />
hanya memberi kepuasan yang makin membakar nafsu untuk mendapatkan yang<br />
lebih besar. Lalu setelah itu, jatuh bangun lagi, bertarung demi ambisi<br />
lagi, mengejar dan memenuhi nafsu lagi, untuk keinginan yang tak ada<br />
habisnya.</p>
<p>Saudaraku, Semoga kita semakin memahami, bahwa ada banyak keinginan yang<br />
ternyata tidak baik untuk kita sendiri. Perhatikanlah bagaimana ungkapan<br />
seorang sahabat mulia, Ibnu Mas&#8217;ud radhiallahu anhu, &#8220;*Sesungguhnya ada<br />
seorang hamba yang sangat terobsesi mencapai sesuatu, baik masalah bisnis<br />
maupun kekuasaan. Dan sebenarnya ia dimudahkan untuk mencapai keinginannya<br />
itu. Tapi Allah melihatnya, lalu berkata pada para Malaikat-Nya, &#8216;Hindari<br />
dia dari apa yang diinginkannya itu. Karena sesungguhnya jika Aku mudahkan<br />
dia memperoleh keinginannya, maka ia akan masuk neraka.&#8217; Maka orang itu pun<br />
dihindari oleh Allah dari apa yang diinginkannya. Selanjutnya, orang<br />
tersebut menduga-duga dengan mengatakan, &#8216;Kenapa fulan lebih berhasil<br />
dariku, kenapa fulan lebih unggul dariku. Padahal apa yang terjadi itu tidak<br />
lain hanya karunia Allah swt belaka.&#8221; *(Nurul Iqtibas, 49)</p>
<p>Imanlah yang menyelamatkan kita dari dinamika hidup yang melelahkan itu.<br />
Imanlah yang selalu memberikan kesegaran baru. Iman yang memberi pencerahan<br />
batin yang membuat kita selalu prima menghadapi badai apapun dalam hidup.<br />
Andai seorang hamba selalu mengembalikan segala masalah pada hakikat<br />
keimanan, niscaya ia yakin bahwa Allah tidak pernah menetapkan sesuatu<br />
kecuali kebaikan. Meskipun kebaikan itu tidak ia sadari.<br />
Saudaraku, Pikiran kita seringkali tak mampu membaca langsung<br />
kebaikan-kebaikan Allah. Mungkin karena hati kita yang kerap tidak bersinar.<br />
Pergulatan hidup, sentuhan urusan dunia menyebabkan hati seseorang<br />
terselubung oleh suasana pekat. Itulah yang pernah digambarkan oleh<br />
Rasulullah saw pada kita, *&#8221;Tidaklah hati seseorang itu kecuali ia<br />
mengalarni kondisi seperti awan dan bulan. Jika hati terdominasi oleh awan,<br />
maka hati akan menjadi gelap. Tapi bila awan itu menyingkir maka hati akan<br />
menjadi terang.&#8221; *(HR. Thabrani dalam hadits shahih).<br />
Begitulah, hati yang terkadang tertutup oleh awan, akan terhijab cahayanya<br />
lalu menjadi temaram. Jika kita berupaya menambah keimanan dalam hati dengan<br />
memperbanyak amal shalih dan meminta pertolongan Allah untuk menyingkapkan<br />
awan itu, maka hati kita akan bercahaya lagi.</p>
<p>Karenanya saudaraku, Sadarilah kapan saat-saat awan kelabu itu mulai<br />
menyelimuti hati. Waspadailah ketika hati mulai terasa redup dan tak<br />
tersinari oleh cahaya. Seperti yang disebutkan dalam perkataan salafushalih,<br />
*&#8221;Termasuk kecerdasan seorang hamba adalah, jika ia menyadari kondisi<br />
imannya dan apa-apa yang kurang darinya.&#8221;*<br />
Ada pula para salafushalih yang mengatakan bahwa termasuk kecerdasan<br />
seorang hamba adalah, *&#8221;Jika ia mengetahui dari mana datangnya<br />
bisikan-bisikan syaitan pada hatinya.&#8221; *<br />
Kembalilah pada iman, maka semua keinginan kita akan terwujud. Keinginan<br />
yang tidak dibatasi oleh target, angka atau hasil yang bisa diraba. Karena<br />
keinginan tak pemah selesai oleh target, angka dan hasil-hasil itu. Tapi<br />
keimanan akan memberi semua harapan, melalui ketenangan, ketentraman hati<br />
dan kepuasan. ltulah yang kita cari.</p>
<p>Imam Ibnul Jauzi mengatakan, *&#8221;Wahai orang yang ditolak dari pintu. Wahai<br />
orang yang terhalangi menemui kekasihnya. Jika engkau ingin mengetahui<br />
kedudukanmu di sisi raja. Lihatlah sarana apa yang bisa membantumu untuk<br />
mengetahui posisimu di sisi sang raja. Lihatlah pekerjaan apa yang<br />
menyibukkanmu. Betapa banyak orang yang berdiri di depan pintu istana raja.<br />
Tapi tak satupun yang dapat masuk dan berhadapan dengan raja kecuali<br />
orang-orang yang memang telah dipilih oleh sang raja. Tak seluruh hati bisa<br />
mendekat. Tak semua jiwa menyimpan rasa cinta.&#8221; *</p>
<p>Seorang ulama menjelaskan makna perkataan Ibnul Jauzi ini. Ia mengatakan<br />
bahwa jika seseorang ingin tahu di mana posisinya di hadapan Allah,<br />
bercerminlah pada amal-amal yang menyibukkannya. &#8220;Jika ia sibuk dengan<br />
dakwah dan berbagai masalahnya, jika ia sibuk menyelamatkan umat manusia<br />
dari neraka, jika ia sibuk melakukan pekerjaan untuk memperoleh kemenangan<br />
di surga, menolong yang lemah dan orang yang membutuhkan, maka bergembiralah<br />
karena semoga ia mempunyai kedudukan yang dekat dengan Allah. Beritakanlah<br />
kabar gembira bahwa Allah tidak akan memberikan kebaikan kecuali pada orang<br />
yang Ia cintai. Tapi jika ia dia berpaling dari dakwah, berpaling dari para<br />
juru dakwah, berpaling dari melakukan kebaikan, sibuk dengan dunia dan<br />
mengumpulkan harta benda, sibuk dengan banyak bertanya tapi sedikit beramal,<br />
sibuk dengan mengikuti hawa dan nafsu, ketahuilah bahwa ia jauh dari Allah.&#8221;</p>
<p>Saudaraku, Lihatlah apa sarana yang bisa mendekatkan kita pada Allah? Dan<br />
apa pekerjaan yang menyibukkan kita? Allah akan memilih orang-orang yang<br />
bisa menempuh sarana yang mendekatkan diri kita pada-Nya dan menyibukkan<br />
diri untuk menjalani perintah-Nya. Mari mengukur segala keadaan dengan iman.</p>
<p>Mari kembalikan semua keinginan pada keimanan. Mari melihat peristiwa hidup<br />
apa saja dengan kaca mata iman, Ibnu Taimiyah mengatakan, &#8220;Apa yang<br />
dilakukan musuh-musuhku terhadapku? Surgaku ada dalam jiwaku, Jika mereka<br />
memenjarakanku maka itu adalah masa penyepianku dengan Tuhanku. Jika mereka<br />
mengasingkanku ke suatu tempat yang jauh maka itu adalah masa pengembaraan<br />
bagiku. Jika mereka membunuhku, itu adalah kematian yang semoga menjadikanku<br />
sebagai syahid.&#8221; ___(Rofiqul Ghodiy*)</p>
<p>Kiriman dari: Nawawi Muhammad</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rafkirasyid.com/ukurlah-dengan-iman/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3942</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>ISTIQOMAH DI ZAMAN MODERN</title>
		<link>http://rafkirasyid.com/istiqomah-di-zaman-modern/</link>
		<comments>http://rafkirasyid.com/istiqomah-di-zaman-modern/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 12 May 2009 14:40:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rafki Rasyid</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ragam]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rafkirasyid.com/?p=1333</guid>
		<description><![CDATA[Istiqamah artinya teguh hati, taat asas, atau konsisten. Meskipun tidak semua orang bisa bersikap istiqamah, namun memeluk agama, untuk memperoleh hikmahnya secara optimal, sangat memerlukan sikap itu. Allah menjanjikan demikian: &#8220;Dan seandainya mereka itu bersikap istiqamah di atas jalan kebenaran, maka pastilah Kami siramkan kepada mereka air yang melimpah.&#8221; (QS. Al-Jinn/72:16). Air adalah lambang kehidupan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Istiqamah artinya teguh hati, taat asas, atau konsisten. Meskipun tidak semua orang bisa bersikap istiqamah, namun memeluk agama, untuk memperoleh hikmahnya secara optimal, sangat memerlukan sikap itu. Allah menjanjikan demikian: <em>&#8220;Dan seandainya mereka itu bersikap istiqamah di atas jalan kebenaran, maka pastilah Kami siramkan kepada mereka air yang melimpah.&#8221;</em> (QS. Al-Jinn/72:16).</p>
<p>Air adalah lambang kehidupan dan lambang kemakmuran. Maka Allah menjanjikan mereka yang konsisten mengikuti jalan yang benar akan mendapatkan hidup yang bahagia. Tentu saja keperluan kepada sikap istiqamah itu ada pada setiap masa, dan mungkin lebih-lebih lagi diperlukan di zaman modern ini. Karena kemodernan (modernitas, modernity) bercirikan perubahan. Bahkan para ahli menyebutkan bahwa kemodernan ditandai oleh &#8220;perubahan yang terlembagakan&#8221; (institutionalized change).</p>
<p>Artinya, jika pada zaman-zaman sebelumnya perubahan adalah sesuatu yang &#8220;luar biasa&#8221; dan hanya terjadi di dalam kurun waktu yang amat panjang, di zaman modern perubahan itu merupakan gejala harian, dan sudah menjadi keharusan. Lihat saja, misalnya, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, terutama teknologi microchip (harfiah: kerupuk kecil) dalam teknologi elektronika.</p>
<p>Siapa saja yang mencoba bertahan pada suatu bentuk produk, baik dia itu produsen atau konsumen, pasti akan tergilas dan merugi sendiri. Karena itulah maka &#8220;Lembah Silikon&#8221; atau Silicon Valley di California selalu diliputi oleh ketegangan akibat kompetisi yang amat keras. Adanya kesan bahwa &#8220;perubahan yang terlembagakan&#8221; itu tidak memberi tempat istiqamah adalah salah. Kesalahan itu timbul antara lain akibat persepsi bahwa istiqamah mengandung makna yang statis. Memang istiqamah mengandung arti kemantapan, tetapi tidak berarti kemandekan. Melainkan lebih dekat kepada arti stabilitas yang dinamis. Dapat dikiaskan dengan kendaraan bermotor: semakin tinggi teknologi suatu mobil, semakin mampu dia melaju dengan cepat tanpa guncangan. Maka disebut mobil itu memiliki stabilitas atau istiqamah. Dan mobil disebut dengan stabil bukanlah pada waktu ia berhenti, tapi justru ketika dia melaju dengan cepat.</p>
<p>Maka begitu pula dengan hidup di zaman modern ini. Kita harus bergerak, melaju, namun tetap stabil, tanpa goyah. Ini bisa saja terwujud kalau kita menyadari dan meyakini apa tujuan hidup kita, dan kita dengan setia mengarahkan diri kepadanya, sama dengan mobil yang stabil terus melaju ke depan, tanpa terseot ke kanan-kiri. Lebih-lebih lagi, yang sebenarnya mengalami &#8220;perubahan yang terlembagakan&#8221; dalam zaman modern ini hanyalah bidang-bidang yang bersangkutan dengan &#8220;cara&#8221; hidup saja, bukan esensi hidup itu sendiri dan tujuannya. Ibarat perjalanan Jakarta-Surabaya, yang mengalami perubahan hanyalah alat transportasinya, mulai dari jalan kaki, sampai naik pesawat terbang. Tujuannya sendiri tidak terpengaruh oleh &#8220;cara&#8221; menempuh perjalanan itu sendiri.</p>
<p>Maka ibarat mobil yang stabil yang mampu melaju dengan cepat, begitu pula orang yang mencapai istiqamah tidak akan goyah, apalagi takut, oleh lajunya perubahan. Dia hidup dinamis, berjalan di atas kebenaran demi kebenaran, untuk sampai akhirnya kembali kepada Tuhan, sang Kebenaran Mutlak dan Abadi. Dan kesadaran akan hidup menuju Tuhan itulah yang akan memberi kebahagiaan sejati sesuai janji Tuhan di atas. (afzan. m. wahab*)</p>
<p>Sumber: Group Ngaji, Bikin Keren Facebook</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rafkirasyid.com/istiqomah-di-zaman-modern/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>373</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

