Suku Bunga Kredit Bakalan Naik?
Suku bunga acuan alias BI rate agaknya sudah tidak sakti lagi. Kini perbankan tidak melulu berpatokan pada BI rate dalam menentukan kebijakan bunga kredit. Buktinya, meski kemarin Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuan di 6,5 persen, perbankan justru mulai berancang-ancang menaikkan bunga kreditnya dalam waktu dekat.
Wakil Presiden Direktur Bank Danamon Jos Luhukay, mengatakan tren inflasi saat ini terus merangkak naik. Jadi, meski BI rate anteng di 6,5 persen, perbankan justru mulai mencatat kenaikan biaya dana atau cost of fund. “Tingkat inflasi mulai naik, cost of fund otomatis ikut naik. Bulan Maret dan April ini suku bunga kredit bisa kembali naik,” kata Jos, Rabu (3/3/2010).
Sejatinya tingkat inflasi masih relatif rendah. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, inflasi inti Februari sebesar 3,88 persen, menurun dari bulan sebelumnya sebesar 4,43 persen.
BI menegaskan bakal terus mengawal agar tingkat inflasi tetap bergerak di level 4 -6 persen. Jadi, kalau bank menuding inflasi sebagai biang kerok kenaikan biaya dana, sebenarnya itu kurang berdasar.
Kompetisi DPK
Yang paling mungkin menjadi penyebab kenaikan tingkat biaya dana adalah kian ketatnya persaingan memperebutkan dana masyarakat. Sebelumnya, memang ada kesepakatan di antara bank untuk mematok bunga deposito maksimal 7 persen. Namun, di lapangan, nyatanya bank masih berlomba menggaet dana pihak ketiga melalui pemberian insentif lain di luar bunga.
Misalnya, penawaran bunga spesial alias interest rate untuk nasabah kakap, dan pemberian hadiah. Mulai dari dana tunai hingga mobil mewah. Bank juga makin jor-joran menawarkan tabungan rencana yang karakter dan besaran bunganya mirip deposito.
Semua langkah itu tentu membebani ongkos operasional bank. Ujung-ujungnya, biaya dana kembali membengkak dan menyulut kenaikan bunga kredit.
Fenomena ini tak luput dari pengamatan BI. “Langkah perbankan memberikan insentif lebih kepada nasabah untuk penempatan dana jangka panjang masih terlihat, sehingga terjadi peningkatan tingkat biaya dana sebesar empat basis poin untuk deposito bertenor 24 bulan,” jelas bank sentral dalam Tinjauan Kebijakan Moneter (TKM) Maret ini.
BI menilai, biaya dana di bank masih tinggi bila dibandingkan periode 2007-2008, meski tingkat BI rate di periode yang sama lebih tinggi ketimbang saat ini.
Direktur Keuangan Bank Bukopin Tri Joko Prihantoro menganggap wajar strategi bank menggaet dana nasabah dengan berbagai promo. “Di Indonesia masyarakat yang tersentuh layanan bank baru 30 persen. Untuk menggarap potensi yang tersisa itu ada ongkosnya,” paparnya.
Beda dengan Malaysia atau Singapura yang 90 persen masyarakatnya sudah menjangkau bank. “Bank di sana tak perlu promosi besar-besaran untuk gaet nasabah,” kata Joko. (Ruisa Khoiriyah, Roy Franedya , Sopia Siregar/Kontan)
Sumber: Kompas.com
komentar ke sana – ke mari menggaet blogger untuk komentar
=
info yang menarik
All people deserve very good life time and credit loans or credit loan will make it much better. Because people’s freedom bases on money.
Wah… padahal mau kresit bank neh… Ga jadi deh kalau bunganya melambung…
mau tanya lo pinjam kredit 25 jt 48 bulan setorannya berapa di bank danamon aq mau ajukan