Secangkir Kopi
Tahun 2003, saya pernah menerima email dari teman saya yang berisi sebuah tulisan. -Teman saya itu memang penulis yang rajin mengirimkan berbagai tulisan ke teman-temannya termasuk saya. Tulisan yang menarik tentang “kosa kata kopi pahit“.
Kopi memang sangat akrab dengan kehidupan saya. Ada masa-masa sekitar 5 tahunan saya bergelut dengan kopi. Waktu itu saya bekerja di sebuah pabrik pengolahan biji kopi untuk dieksport. Perusahaan PMA itu sedikit banyak membentuk karakter bekerja saya, juga memberi banyak pengalaman terutama tentang perkopian. Episode kehidupan setelah tidak bekerja karena pabrik mengalami kemunduran merupakan episode kopi pahit, -walaupun sekarang menjadi kenangan manis.

Dalam perjalanan baru-baru ini melewati jalur tengah Jateng-Jatim, -Purwodadi-Blora-Cepu-Bojonegoro-Lamongan-, rasanya sayang kalau saya melewatkan warung-warung kopi, terutama di wilayah Jawa Timur. Maklumlah, orang Jatim kebanyakan suka ngopi. Tiba-tiba saya teringat episode kopi dan kopi pahit.
Banyak macam kopi telah saya nikmati, dari gongsengan lokal di Indonesia sampai kopi bungkusan instan, bahkan berbagai minuman kopi di cafe mahal ala Amerika, Eropa, Timur Tengah, dan Asia Timur. Pernah pula saya menikmati kopi dari Blue Mountain Tanzania -kopi Arabika dari lereng Kilimanjaro. Namun, saya lebih suka kopi lokal, mungkin saja karena cocok dengan lidah Indonesia saya -walaupun sebetulnya kopi bukan asli Indonesia. Walaupun bukan asli Indonesia, beberapa jenis kopi Indonesia misalnya dari Gayo, Takengon, Toraja, -dan masih banyak lagi-, adalah kopi premium di pasar komoditi internasional.

Ada beberapa macam minuman kopi lokal yang saya suka. Kopi tubruk, kopi cong, kopi godog yang di Jawa Timur bagian selatan sering disebut kopi kotok, dan aneka kopi-kopi lokal lainnya. Cara pengolahan biji kopi bisa bermacam cara. Cara penggongsengan dan penggilingan bisa bermacam cara. Ada pula yang ditambah dengan bermacam campuran, misalnya dicampur beras, kelapa, jagung, dan lain-lain. Cara penyajian juga bermacam cara pula, ada yang digodog dalam panci besar sehingga kopi selalu panas dan mendidih, ada pula yang sekali penyajian sekali godogan -sehingga pinggir panci kecil yang digunakan berlepotan sisa kopi yang menambah aroma khas karena sebagian ada yang terbakar,- dan banyak cara lain, dan banyak pula yang asal tuang saja.
Namun, apapun kopinya, bagi saya yang paling nikmat bilamana saya bisa memilih biji , menggongseng, menggiling, dan menyeduhnya sendiri. Ada kepuasan tak terkira. Bagaimana dengan sedulur sekalian???
Gambar diambil di warung kopi di Lamongan, Jatim…
Tulisan-tulisan Anwar Holid teman saya itu masih saya simpan, yang tentang kopi ada di SINI…