Celoteh Ekonomi dan Manajemen

Memahami Kecerdasan Emosional

Ketika membaca buku tentang kecerdasan emosional, saya pribadi seringkali kehilangan makna dari prinsip kecerdasan emosional itu sendiri. Terlalu banyaknya bumbu cerita dan definisi dari kecerdasan emosional ini membuat arti sebenarnya menjadi kabur.

Jika mau disederhanakan kecerdasan emosional hanya memiliki dua kata, yaitu “cerdas dan emosi”. Cerdas biasanya dipengaruhi oleh kemampuan berfikir atau seringkali kita sebut dengan akal. Sedangkan emosi sudah jelas kita pahami sebagai sesuatu yang membuat setiap manusia itu merasakan pahit getir dan bahagianya hidup ini.

Riset puluhan tahun membuktikan bahwa antara fikiran dan emosi ternyata saling mempengaruhi. Dimana, fikiran yang berkecamuk di benak kita berpengaruh signifikan terhadap emosi kita. Begitu juga sebaliknya, emosi kitapun mempengaruhi kualitas berfikir kita.

Jadi dalam hal ini, kita secara sederhana dapat menarik suatu definisi di mana kecerdasan emosi itu adalah ketika nalar kita sanggup mengarahkan ekspresi emosi kita. Artinya, kita dikatakan cerdas secara emosi jika kita bisa meletakkan gejolak emosi di bawah kendali akal fikiran. Sebaliknya kita dikatakan tidak cerdas secara emosional jika gejolak emosi kita mampu mengalahkan fikiran sehat kita. Berbahagialah umat muslim karena hal ini sudah disadari semenjak dulu oleh Nabi Besar Muhammad SAW. Di mana bentuk latihan untuk melakukan ini semua adalah dengan melakukan puasa. Baik puasa sunat maupun puasa wajib yang dilakukan setahun sekali di bulan Ramadhan yang baru saja kita lewati bersama.

Terkadang kita diperbudak oleh emosi yang menghasilkan tindakan-tindakan destruktif karena selama ini kita telah membiarkan diri kita dikendalikan emosi kita. Padahal jika kita cerdas secara emosional maka kita akan memikirkan terlebih dahulu setiap emosi yang akan kita munculkan dalam setiap perilaku kita. Untuk itu, berfikirlah selalu dan sampaikan pertanyaan ke diri sendiri, ‘apakah saat ini saya telah mengekspresikan emosi saya secara cerdas?”

Jika lain kali Anda berada dalam keraguan untuk mengekspresikan suatu emosi, maka carilah acuan. Acuan kita biasanya adalah orang-orang yang kita jadikan panutan. Berfikirlah seperti orang yang Anda kagumi tersebut dan fikirkanlah bagaimana dia bersikap jika menghadapi situasi yang sama dengan Anda.

Demikian pemahaman saya tentang kecerdasan emosional yang terkenal itu. Semoga ada yang sudi menambahkan agar sama-sama menambah pemahaman kita dalam masalah ini. :D


Tagged as:


Anti-Spam Protection by WP-SpamFree