Celoteh Ekonomi dan Manajemen

Kita dan Malaysia

Begitu getolnya media kita belakangan ini mengobarkan semangat permusuhan dengan negara jiran Malaysia. Tentu saja ini terkait dengan klaim negara tetangga tersebut terhadap beberapa kebudayaan dan pulau-pulau di Indonesia. Ditambah dengan pelanggaran batas negara yang dilakukan oleh kapal-kapal perang Malaysia ketika berpatroli. Namun, apakah kita patut larut dalam semangat permusuhan ini terus menerus? Kita tentunya harus jeli melihat akar permasalahan.

Malaysia, boleh dibilang dibangun sebagai negara baru yang memang tidak memiliki jati diri membumi seperti Indonesia. Malaysia sendiri sebagai suatu bangsa terdiri dari berbagai macam suku yaitu Melayu, Tionghoa, India, dan beberapa suku lain. Suku Melayu sebagai mayoritas sebagian besar berasal dari Indonesia.

Kesultanan Johor merupakan keturunan dari kekuasaan raja-raja di bugis. Kesultanan Negeri Sembilan merupakan kesultanan yang didirikan oleh Raja Malewar dari Minangkabau. Begitu pula Pahang dan beberapa daerah lainnya di Malaysia. Bahkan, yang disebut sebagai suku Melayu Malaysia itu sendiri sebenarnya adalah orang-orang keturunan suku Minang, Bugis, Palembang, Aceh, dan Jawa yang berasal dari Indonesia. Jadi tidaklah aneh sebenarnya jika kelihatan ada beberapa kesamaan budaya antara kita dengan Malaysia.

Tentang batik sesungguhnya banyak perbedaan antara batik Jawa dan batik Malaysia, sebagaimana perbedaan batik Jawa dengan batik Jambi dan Banjar. Namun belakangan banyak pebatik Solo-Yogya dan Pekalongan berdatangan ke Malaysia. Mereka sengaja datang (atau didatangkan) karena penghasilan mereka lebih besar di sana. Maka besar kemungkinan keterampilan dan garis-garis cipta tangan Jawa akan mendaulat batik Malaysia di masa datang. Lalu siapakah yang salah? (Zulhasril Nasir: 2009).

Wayang kulit, angklung, gamelan, lagu keroncong dan beberapa alat musi serta lagu tradisional Indonesia kerap diperdengarkan di media-media publik Malaysia. Apakah ini juga dijadikan bukti kalau mereka mengklaim budaya kita?

Ketika Soekarno dan Hatta berangkat ke Dalat, Saigon, memenuhi panggilan Panglima Perang Jepang Terauchi, 8 Agustus 1945, keduanya disambut Ibrahim Jaacob dan Burhanuddin Helmy (dari Kesatuan Melayu Malaya) di Singapura dan berjanji bertemu di Taiping, Perak, sekembali dari Saigon (Giebels 2001:105 dan Legge 1985:221). Kedua pejuang Malaya ini menyatakan Tanah Melayu tak dapat dipisahkan dengan Indonesia Raya (Mohammad Salleh Lamry, 2006:51).

Ketika meresmikan seminar “Peranan Bugis dalam Perkembangan Alam Melayu” tahun lalu di Jakarta, Wapres Jusuf Kalla menyatakan mengapa kita haus meributkan kesenian kita yang diklaim Malaysia, toh di sana juga orang Bugis, Minang, dan Jawa. Seharusnya kita berbangga budaya kita dipakai dan dikembangkan oleh negara lain Sebagaimana musik rap di Indonesia, kan tak ada orang Amerika yang protes?

Semoga orang kita lebih dewasa dalam melihat persoalan ke depan. Kesiapan kita dalam membendung arus budaya luar yang semakin membanjir dan kesiapan kita ketika melihat budaya kita “di jual” di Eropa oleh orang asing harus terus ditekankan. Tak ada lagi “milik kita sepenuhnya” ketika kita menyatakan siap dan mampu menghadapi globalisasi.

Sumber: Majalah Tempo


Tagged as: ,

Comments

  • Wempi said:

    reog malaysia. alatnya di import dari seniman di ponorogo. kalo senimannya mogok, gak ada tuh pertunjukan reog malaysia, hehehe…

  • sawali tuhusetya said:

    hubungan indonesia-malaysia agaknya memang ditakdirkan harus mengalami pasang-surut, pak rafky. malaysia yang memang tak mengenal dinamika heroisme di bidang budaya dan perjuangan mempertahankan dan membela tanah air, tak pernah bisa paham, apalagi mengapresiasi semangat budaya negara tetangganya, sehingga mereka demikian gampang mengklaim budaya bangsa lain. meski demikian, bangsa kita juga perlu melakukan refleksi dan banyak belajar dari berbagai kasus yang selama ini terjadi.

  • zulhasril nasir said:

    Cara penulisan Sdr. Rafki tidaklah patut. Sebagian besar adalah tulisan saya yang dimuat di Tempo bulan September lalu dengan judul “Agar Tak Kecewa dengan Malaysia.” Sdr hanya membolak balik isi dan sedikit masukkan komentar anda. Cara terbaik adalah, Sdr. memuat lengkap suatu tulisan dan nama peulisnya. Kalau Sdr. mau ulas tulisan itu tentulah yang terbaik untuk dijadikan bagian dari kadar kepakaran Sdr. Cara ini akan lebih elok agar anda terhindar dari pelanggaran hak cipta/intelectual right. ZN

  • zaklady bukmacherskie said:

    I want to start blogging too, what do you think, which blog platform is good for beginner?

Trackbacks

There are no trackbacks



Anti-Spam Protection by WP-SpamFree