Celoteh Ekonomi dan Manajemen

Kandang Teroris

terorisSUKA atau tidak suka, Indonesia adalah kandang teroris. Negeri yang luas, pengamanan yang lembek, dan rakyat yang miskin dengan mentalitas kompromistis adalah syarat bagi suburnya aktivis terorisme.

Setelah ‘universitas terorisme’ di Afghanistan hancur lebur, banyak anggota jaringan–yang sebagian muridnya dari Indonesia–balik kandang. Bahkan teroris dari negara tetangga Malaysia seperti Noordin M Top yang ahli bom juga masuk ke Indonesia karena merasa di sini lebih nyaman.

Indonesia sebagai kandang yang subur bagi terorisme juga terlihat dari rangkaian ledakan bom sejak 2000. Dalam sembilan tahun terakhir tercatat 26 kali ledakan bom yang tersebar di Tanah Air.

Yang paling baru adalah dua ledakan yang terjadi kemarin di Hotel JW Marriott dan Ritz Carlton yang menewaskan sembilan orang dan mencederai puluhan lainnya. Ini kali kedua ledakan bom di JW Marriot setelah ledakan pertama 5 Agustus 2003 yang menewaskan 14 orang.

Sekitar dua pekan lalu polisi menangkap anggota jaringan teroris yang diketahui mempersiapkan ledakan bom. Mereka ditangkap di Jawa Tengah. Setahun sebelumnya sebuah jaringan di Palembang dibekuk.

Rangkaian fakta itulah yang lebih jernih dipakai sebagai basis analisis tentang siapa pelaku bom di JW Marriott dan Ritz Carlton kemarin. Sementara, mengenai kemungkinan pelaku lain dengan motif lain, termasuk motif politik yang berkaitan dengan pemilihan presiden, seperti diduga Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, biarkan polisi yang mengungkapnya.

Pertanyaan yang kemudian mengganggu adalah mengapa kepolisian sampai saat ini belum juga berhasil membekuk Noordin M Top? Sampai sejauh mana koordinasi intelijen tentara dan intelijen polisi dalam hal ini? Jangan-jangan semuanya diserahkan ke polisi kemudian dengan gampang mengaku kecolongan bila terjadi ledakan di depan mata?

Kalau itu menjadi tugas kepolisian seperti Densus 88, pertanyaannya adalah apakah negara telah memberi mereka anggaran yang memadai untuk operasi yang tidak mengenal batas waktu? Jangan-jangan karena dua tahun terakhir tidak terjadi ledakan bom, anggaran pun diciutkan. Pertanyaan lain, mengapa bahan-bahan peledak berbahaya bisa dengan gampang sampai ke tangan teroris?

Teroris mendapat ladang yang nyaman di Indonesia karena mereka diterima komponen tertentu dalam masyarakat. Masyarakat tidak menganggap mereka berbahaya dan karena itu, tidak melaporkannya kepada petugas.

Dan, yang amat memudahkan pergerakan teroris adalah sistem administrasi kependudukan yang amburadul sehingga seorang teroris memiliki nama berlainan di setiap tempat dengan kartu tanda penduduk yang mudah diperoleh.

Pencatatan identitas pengguna telepon seluler yang asal-asalan juga mempersulit pelacakan. Dan masih banyak lagi peluang yang tersedia di negeri ini bagi kenyamanan teroris.

Bahwa bom kemarin meledak di JW Marriott dan Ritz Carlton, dua simbol identitas Amerika Serikat, bisa mengarahkan orang bahwa inilah perang global terorisme terhadap Washington. Tetapi bagi Indonesia, bom yang meledak di Tanah Air, tidak peduli lokasi peledakan, adalah guncangan terhadap kredibilitas kita.

Itu adalah pukulan telak dan memalukan. Terorisme pasti datang, tetapi kita tidak bisa memastikan kapan dan di mana. Tetapi, banyak yang meyakini bahwa terorisme selalu dekat dengan konspirasi.

Sumber: Editorial Media Indonesia


Sebagai tambahan untuk editorial ini, saya ingin menambahkan pemikiran untuk kita bersama. Kenapa kebanyakkan teroris ini berasal dari Malaysia? Kenapa mereka tidak melakukan aksi terorisme ini di negara mereka sendiri? Seperti Noordin M Top misalnya.

Saya dan kita semua bisa melihat bahwa bom-bom yang meledak di negara ini ternyata secara tidak langsung menguntungkan negara tetangga ini. Lihatlah Manchester United yang harusnya bertanding di Indonesia, akhirnya bertanding dua kali di Malaysia. Para turis mulai eksodus dari Indonesia, tentunya ada juga yang menuju negara-negara tetangga karena menganggap negara tetangga ini lebih aman, termasuk Malaysia.

Semoga ini hanya dugaan saya saja, bahwa Malaysia secara sistematis berada di belakang aksi-aksi pengeboman ini. Semoga memang hanya kebetulan saja kalau aksi-aksi pengeboman ini menguntungkan Malaysia dan pelakunya kebanyakkan berasal dari Malaysia.

Comments

  • sawali tuhusetya said:

    saya juga heran nih, pak. kalau memang kecurigaan mengarah pada satu sosok teroris, kenapa juga aparat kita lamban menyergapnya? ini tantangan besar dan sekaligus berat utk membuktikan bahwa aparat kita benar2 layak jadi penyaom masyarakat.

  • mima said:

    sampai kapan semua itu berhenti?
    soal editorial indonesia mim juga menduga kya gitu.. T_T

Trackbacks

There are no trackbacks



Anti-Spam Protection by WP-SpamFree