Cicak, Buaya, Dan Godzilla
Itulah tiga jenis binatang yang semakin populer belakangan ini. Jika dua binatang yang pertama memang ada di dunia nyata, maka binatang yang ketiga (gozilla) adanya hanya di film belaka.
Pihak kepolisian dengan bangga menyebut dirinya ibarat buaya, dan sekaligus menyamakan KPK dengan cicak yang tak mungkin bisa menang melawan buaya. Jelas saja cicak yang berukuran kecil sampai kapanpun tidak akan menang melawan buaya yang bertubuh besar. Tapi bukankah buaya dianggap sebagai binatan ganas yang ditakuti? Bukankah buaya seringkali diistilahkan dengan konotasi negatif, seperti buaya darat misalnya? Kenapa Kabareskrim Polri harus menganalogikan institusi yang dipimpinnya dengan binatang yang satu ini? Entahlah.
Lalu, ketika perang dingin (hampir terbuka) antara buaya dan cicak sudah mulai memanas, datanglah Sang Godzilla yang juga membanggakan diri lebih besar dari kedua binatang sebelumnya. Istilah ini terlontar dari mulutnya Bapak Kepala Kejagung yang terhormat. Tentu saja, dibanding buaya dan cicak, maka godzilla jauuuuhhh lebih besar dan ganas. Tapi bukankah ini hanya ada di dalam ilusi industri film belaka? Bukankah binatang ini identik dengan kehancuran? Bukankah binatang ini begitu menakutkan, sehingga manusiapun dengan segala cara memeranginya agar musnah? Tentunya pihak kejaksaan tidak ingin diperangi rakyat akibat menakut-nakuti masyarakat bukan?
Ketika institusi penegak hukum sudah dilecehkan pimpinannya sendiri dengan istilah-istilah yang tidak elok didengar ini, saya kembali pesimis bahwa penegakkan hukum yang sudah mulai berjalan ke arah yang benar, akan dibelokkan lagi ke arah yang sebaliknya. Ketika institusi-institusi utama penegak hukum ini mengeluarkan gurauan-gurauan yang tidak lucu itu, masyarakat harusnya bisa melihat bahwa dagelan hukum mulai terjadi. Musuh bersama, yaitu para koruptor, yang harusnya diburu jadi terabaikan akibat perang antar binatang yang semakin seru ini. Publik tidak menginginkan ini. Hal ini harus diselesaikan segera. Tidak bisa ditunda lagi. Semakin berlarut perang ini, maka semakin hancurlah masa depan hukum di Indonesia.
Semoga perang antar binatang-binatang ini bisa segera berakhir. Dan semoga institusi-institusi hukum di Indonesia kembali menjadi institusi sungguhan, bukannya menjadi binatan seperti saat ini. Kita tunggu saja seperti apa jadinya hukum di Republik tercinta ini. Oh ya, mudah-mudahan tidak muncul binatang ke-empat yang juga sangat mengerikan yaitu “Sang Kingkong”.
kingkong kalo sama cewek cantik, baik dianya om…
Taqabballahu minna waminkum. Minal Aidin Wal Faizin…Mohon Maaf Lahir Batin…
ach dikita biasa…..merasa diri lebih berwenang…jadi kita bingung nih, ngewayang semua nih….
HANACARAKA DATASAWALA PADAJAYANYA MAGABATANGA
Ada dua prajurit yang setia dengan atasannya, masing-masing mendapatkan tugas untuk menjaga pusaka negara dari sisi yang berbeda, suatu ketika dua prajurit tersebut berselisih paham satu dengan yang lainnya, lalu mereka bertempur untuk mempertahankan argumentasinya masing-masing, namun karena sama-sama kuatnya maka pertempuran tersebut berujung pada kematian dua prajurit yang setia pada perintah atasannya tersebut. Itulah rangkaian kalimat yang menjadi dasar utama bahasa Jawa. Bila kita cermati artinya hampir sama dengan keadaan sekarang yang terjadi di antara institusi penegak hukum di Indonesia, marilah kita kembali ke jalur masing-masing sebagaimana rel kereta api yang selalu bersandingan untuk membawa kereta bangsa ini menuju cita-cita menjadi bangsa yang makmur, adil, dan sejahtera.
Cicak itu hebat…saat ekornya putus dia akan tumbuh lagi pengganti…kalo buaya? Hmmm…kalo ekornya putus jadi buaya buntung seumur hidup
Masyarakat biarlah menilai … mana yang disebut Buaya !
People all over the world take the loans in various creditors, because that is comfortable.