Bajak Laut: Profesi Yang Paling Digemari di Somalia
Perairan Somalia termasuk jalur transportasi laut yang ramai. Kapal-kapal dari berbagai negara dengan berbagai ukuran berseliweran di perairan ini. Membawa berbagai macam bawaan yang nilainya sungguh menggiurkan. Hal inilah rupanya yang mendorong niat anak-anak muda di Somalia untuk membajaknya dan meminta tebusan.
Menurut catatan Biro Maritim Internasional, selama Maret lalu saja, para pencoleng itu membajak 15 kapal di perairan sekitar Somalia. Tahun lalu perompak itu paling tidak menggaruk US$ 150 juta atau Rp 1,65 triliun dari uang tebusan. Akibatnya, para pelaut menjuluki perairan sekitar Somalia sebagai laut paling rawan di dunia.
Padahal, sejak Agustus tahun lalu, kapal perang dari 25 negara dalam pasukan gabungan wiri-wiri menjaga laut Somalia. Namun, bermodal kapal cepat berukuran kecil, bajak laut Somalia itu dengan gampang mengelabui patroli. Tentu saja hal itu mudah dilakukan mengingat begitu luasnya lautan dan begitu terbatasnya personil yang menjaga lautan tersebut.
Kemiskinan berkepanjangan telah membuat negara ini jatuh ke dalam penderitaan yang semakin meluas. Dengan rata-rata pengeluaran kurang dari satu dolar AS per hari, ditambah pemerintahan yang bobrok, perompak menjadi profesi “terhormat”. Sebab dengan merompak, mereka bisa memiliki uang banyak dan sekaligus memiliki kekuasaan.
Mendapat uang banyak dengan cara instan di tengah kemiskinan yang menghimpit tentu saja telah menarik banyak anak muda dan mantan milisi bersenjata untuk menekuni profesi ini. Dengan uang, mereka bisa mengawini gadis paling cantik, membangun rumah mewah, dan kemana-mana naik Mercedes-Benz. Tentu saja para gadis-gadis cantik di sana senang berkencan dengan para bajak laut ini. Menjadi pacar anggota bajak laut, menjadi impian tersendiri buat gadis-gadis di sana.
Runyamnya lagi, sebagian pejabat pemerintah malah turut meramaikan bisnis haram ini. Menurut pengakuan salah seorang anggota perompak yang tertangkap, uang tebusan yang didapat biasanya dibagi dengan cara: 20 persen untuk bos, 20 persen untuk belanja senjata dan logistik, 30 persen jatah pejabat pemerintah, dan bagi mereka hanya tersisa 30 persen. Maka bajak laut semakin jaya di laut Somalia.
30% dari Rp 1,65 triliun emang cukup banyak buat foya-foya tuh. Bisa-bisa ditiru ama perompak-perompak Indonesia di Selat Malaka… Itu kan juga jalur perdagangan dunia yg strategis.
Tulisan menarik, Bro…
haha! ada-ada aja deh.
tapi paling nggak para pejabatnya yang ikutan jadi bajak laut itu nggak menutupi diri, pura-pura pahlawan dan penyantun, padahal sebenarnya penjahat dan koruptor.
Your site design looks cool. What template did you use ?