<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>::: Rafki Rasyid.com &#187; paman tyo</title>
	<atom:link href="http://rafkirasyid.com/author/paman-tyo/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://rafkirasyid.com</link>
	<description>Celoteh Ekonomi, Manajemen, Dan Teknologi</description>
	<lastBuildDate>Mon, 04 Jul 2011 11:45:53 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Mendidik Masyarakat: Siapa Mendidik Siapa?</title>
		<link>http://rafkirasyid.com/mendidik-masyarakat-siapa-mendidik-siapa/</link>
		<comments>http://rafkirasyid.com/mendidik-masyarakat-siapa-mendidik-siapa/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 12 Feb 2010 21:06:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paman tyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Syndicate]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blogombal.org/?p=2055</guid>
		<description><![CDATA[	BUKAN BERARTI ORANG BOLEH SEMAUNYA DI INTERNET, TAPI&#8230;
	Jika di blog ini saya mencomot hasil jepretan Anda tanpa permisi, apalagi karena itu saya mendapatkan uang, bagaimana? UU HAKI sudah mengaturnya. Begitu juga ketika saya menista Anda di sini. KUHP pun bisa menjerat saya.
	Blog ini hanya media. Di dalamnya ada cara. Untuk dua hal dalam paragraf pertama, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3>BUKAN BERARTI ORANG BOLEH SEMAUNYA DI INTERNET, TAPI&#8230;</h3>
<p><img class="kiri" title="tolak rancangan peraturan menkonminfo tentang konten multimedia" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/bikin/rpm-konten-100.png" alt="" width="100" height="100" />Jika di blog ini saya mencomot hasil jepretan Anda tanpa permisi, apalagi karena itu saya mendapatkan uang, bagaimana? UU HAKI sudah mengaturnya. Begitu juga ketika saya menista Anda di sini. KUHP pun bisa menjerat saya.</p>
<p>Blog ini hanya media. Di dalamnya ada cara. Untuk dua hal dalam paragraf pertama, tanpa internet pun bisa saya lakukan. Masalahnya ada pada saya, bukan pada internet.</p>
<p>Menjadi berlebihan jika konten saya tadi membuat perusahaan <em>hosting</em> untuk blog ini harus ikut dipersalahkan. Padahal tanpa campur tangan negara, penyedia <em>hosting</em> sudah membuat ketentuan yang harus saya patuhi, misalnya tidak boleh memuat percabulan dan hal-hal yang merugikan pun membahayakan (katakanlah petunjuk merakit bom).</p>
<p>Kalau saya tak setuju ya saya mencari penyedia layanan lain yang bisa mengakomodasi kebutuhan saya. Itu soal kesepakatan saya dengam <em>hosting</em>, bukan karena kami dipaksa oleh negara. ISP pun tidak bisa dipersalahkan karena membiarkan publik mengakses blog saya.</p>
<p>Haruskah ada instrumen baru dalam hukum agar semaunya saling tumpuk? Kita telah belajar dari UU-ITE. Dulunya UU itu dirancang untuk transaksi elektronik, karena transaksi modern itu belum sempat terbayangkan dalam perundangan. Tapi kemudian itu ditumpangi pasal pencemaran nama baik dengan korban Prita Mulyasari.</p>
<p>Contoh lain, jika Anda menjadi penyedia <em>blog hosting</em> tentu juga punya ketentuan layanan. Pengguna yang melanggar tinggal Anda tendang. Kenapa? Telah mengganggu bisnis Anda dan kenyamanan orang lain. Bukan karena diperintah oleh peraturan menteri. Tapi kalau pengguna tak puas silakan memerkarakan.</p>
<p>Layak tidaknya sebuah konten Andalah yang menentukan, antara lain berdasarkan etika, moral, dan hukum (yang sesuai akal sehat); bukan karena keputusan sebuah tim hakim kelayakan yang keberadaannya sah secara hukum. Pengguna harus mengikuti Anda.</p>
<p>Kalau pelanggaran si pengguna tadi keterlaluan, dan menjadi kasus hukum? Setahu saya, hanya dengan perintah pengadilan maka Anda melaporkan alamat <em>e-mail</em>-nya dan info lainnya.</p>
<p>Bagaimana kalau Anda, dengan sejumlah alasan, dinyatakan bersalah karena ulah pengguna sehingga izin Anda dicabut, seperti yang diancamkan oleh sebuah <a href="http://www.postel.go.id/content/ID/regulasi/telekomunikasi/kepmen/rpm%20konten%20multimedia.doc" >rancangan peraturan menteri</a>?</p>
<p>Oh, Anda memakai <em>hosting</em> di Amerika dengan WordPress MU. Anda tak punya izin karena memang tak ada lembaga perizinan untuk itu. Baiklah karena lembaga perizinan belum ada maka akan dibuat, bila perlu ada larangan memakai <em>hosting</em> luar negeri atas nama nasionalisme, patriotisme, dan penghematan <em>bandwidth</em>. Emang enak?</p>
<p>Lho, bukannya niat rancangan peraturan menteri tentang konten multimedia itu mulia, demi kepentingan masyarakat? Mungkin. Tapi yang paling bagus, lakukanlah edukasi bukan represi. Itulah cara untuk mendewasakan masyarakat.</p>
<p>Yah, kekuasaan memang menggoda. Maka bisa saja muncul peraturan untuk hal yang sudah diatur, atau malah untuk hal yang tak perlu diatur. Kenapa? Mengatur dalam arti menyuruh dan melarang itu memang menyenangkan.</p>
<p>Jika hal beginian dibiarkan, maka bisa saja suatu saat ada aturan konyol macam ini: Anda sudah punya NPWP pribadi, dan taat membayar pajak, tapi karena Anda punya blog untuk berjualan sambal pecel maka blog Anda dipajaki.</p>
<p>Lebih dari itu, blog Anda harus terdaftar. Kalau suatu hari Anda ganti haluan berjualan tali sepatu, bukan sambal, juga harus melapor. Langkah lanjutan konyol itulah yang harus kita waspadai.</p>
<p><img class="normal" title="gambar bohongan konten multimedia" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/bikin/blogombal-tolakpermenpahit.jpg" alt="" width="360" height="219" /></p>
<div class="caption"><strong>GAMBAR TIPUAN HASIL REKAYASA.</strong> Tak pernah ada peristiwa ini. Berarti saya menyiarkan kebohongan publik atas nama keisengan. Tapi bukan (hanya) itu masalahnya. Kalaupun ini peristiwa nyata,  ada lightbox di sebuah tempat, maka tak ada masalah; namun ketika muncul di blog, dia menjadi konten multimedia &#8212; dan akan diatur sebuah peraturan menteri.</p>
<p><em> © Ilustrasi: sumber foto kaos tidak diketahui (ini rawan ranjau HAKI); generator untuk montase gambar oleh <a href="http://photo505.com" >photo505.com</a></em><em> (mestinya dia dilarang tak tahu menahu soal konten)</em></div>
<p>ANJURAN: <a href="http://www.facebook.com/pages/SOS-Internet-Indonesia/300057540274" >Lihat SOS Internet Indonesia</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rafkirasyid.com/mendidik-masyarakat-siapa-mendidik-siapa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cobalah Menafsir Foto (dan Video) Harto</title>
		<link>http://rafkirasyid.com/cobalah-menafsir-foto-dan-video-harto/</link>
		<comments>http://rafkirasyid.com/cobalah-menafsir-foto-dan-video-harto/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Feb 2010 13:20:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paman tyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Syndicate]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blogombal.org/?p=2028</guid>
		<description><![CDATA[	MARI BELAJAR SEJARAH DARI GAMBAR.
	
	Seorang jenderal dalam usia 46 mulai menggenggam kekuasaan yang besar. Sejarah sudah membahasnya, dan bahasan itu belum usai. Anda boleh kagum sepenuh takzim, boleh pula benci kepadanya &#8212; atau seperti banyak orang bingung untuk merumuskannya dalam satu kata. Meski saya sangat tidak suka kepadanya &#8212;  ketika dia hidup, saya selalu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3>MARI BELAJAR SEJARAH DARI GAMBAR.</h3>
<p><img class="normal" title="Soeharto, 1967" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/repro/blogombal-soeharto-cerutu.jpg" alt="" width="360" height="257" /></p>
<p>Seorang jenderal dalam usia 46 mulai menggenggam kekuasaan yang besar. Sejarah sudah membahasnya, dan bahasan itu belum usai. Anda boleh kagum sepenuh takzim, boleh pula benci kepadanya &#8212; atau seperti banyak orang bingung untuk merumuskannya dalam satu kata. Meski saya sangat tidak suka kepadanya &#8212;  ketika dia hidup, saya selalu menyebutnya dalam blog sebagai &#8220;orang itu&#8221; &#8212; saya mengakui bahwa dalam dirinya pasti ada hal-hal baik bahkan mulia. Dia manusia, bukan iblis, bukan malaikat.</p>
<p>Saya teringat dia karena barusan menemukan foto-foto lama yang dulu, sudah lama banget, pernah saya lihat di majalah <em>Life</em>. Foto-foto yang sebagian adalah hasil pengarahan dan  mengundang tafsir subyektif itu. Di kemudian hari, pada puncak kekuasaannya, siapa yang bisa membuat dia nyaman dan rileks untuk diatur-atur, dan difoto dari dekat?</p>
<p><img class="normal" title="soeharto 46 tahun dalam pakaian yogya" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/repro/blogombal-soeharto-blangkon.jpg" alt="" width="360" height="256" /></p>
<p>Dari jepratan <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Larry_Burrows" >Larry Burrows</a>, pewarta foto perang itu, saya melihat foto-foto penuh percaya diri seorang jenderal yang nyaman menggenggam cek kosong sejak awal kekuasaannya, hampir boleh ngapain aja, karena banyak orang percaya dan berharap kepadanya.</p>
<p>Foto-foto itu menggambarkan kepercayaan diri yang tinggi tanpa menjadi congkak berlebihan, karena dari seorang Jawa introvert, yang bercitra <em>humble</em>, selalu ada cara lunak untuk menunjukkan kelebihan diri. Mampu mengemas keangkuhan dalam kehalusan.</p>
<p><img class="normal" title="tommy, soeharto, mamiek, tien, desember 1967" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/repro/blogombal-soeharto-keluarga.jpg" alt="" width="360" height="237" /></p>
<p>Saya melihat foto-foto seorang suami dan ayah yang hangat. Barangkali, karena kultur kita, maka dia pun menganggap rakyat sebagai anak &#8212; demikian pula rakyat terhadapnya: bapak. Selebihnya adalah <em>father knows best</em> dan dia menjadi <em>patriarch</em>, menjadi sentrum dari segala tafsir tentang kebenaran.</p>
<p><img class="normal" title="soeharto makan malam bersama keluarga, desember 1967" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/repro/blogombal-soeharto-makan.jpg" alt="" width="360" height="237" /></p>
<p>Dia akhirnya menjadi <em>romo </em>(rama, ayahanda, dalam konteks ini bukan pastor) yang bahasa tubuhnya, termasuk anggukan kecil, adalah sabda nonverbal yang siap ditafsir dan dilaksanakan. Ini seperti cerita seorang bekas menteri: jika dia meraih gelas minuman saat mendengarkan usulan maka itu berarti penolakan.</p>
<p>Tentang buku, catatan, dan kliping, sudah banyak yang mengumpulkan dan mengkajinya. Tetapi bagaimana dengan foto? Mestinya Sekretariat Negara, Antara, Pusat Informasi Kompas, dan Pusat Dokumentasi dan Analisa Tempo punya ribuan foto yang siap ditafsir. Saya tak tahu apakah TVRI menyimpan dokumentasinya dengan baik.</p>
<p><img class="kanan" title="soeharto lagi nonton tv? desember, 1967" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/repro/blogombal-soeharto-klg2.jpg" alt="" width="200" height="304" />Video TVRI dan foto koran menampilkan hal yang tampaknya sederhana dari pidato ke pidato: kacamata dan arloji sang jenderal yang sering berganti. Maka orang awam membatin, &#8220;Gimana ya caranya beli? Kan nggak mungkin jalan-jalan ke toko?&#8221;</p>
<p>Kumpulan video TVRI pasti menampilkan seremoni yang layak tafsir. Tentang seorang raja yang dari periode ke periode berdiri <em>semangkin </em>dingin, menyambut antrean <em>daripada </em>tetamu yang akan berjabat tangan. Jarak yang tak bergaris antara dia dan tetamu menghadirkan pemandangan sama: tetamu harus membungkuk. Mirip saya menyalami orang-orang (tua).</p>
<p>Demikian pula foto-foto hadirin dalam banyak acara kepresidenen, yang karena tuntutan protokoler harus ngapurancang (mempertemukan tangan di depan atau bawah perut). Sopan sekaligus aman. Mempermudah pekerjaan paswalpres dalam mengawasi.</p>
<p>Itulah sebabnya foto Direktur Pelaksana IMF Michael Camdesus bersedekap ketika menyaksikan presiden menandatangani kesepakatan pada 15 Januari 1998. Adegan itu, seperti sebuah  kapitulasi atau penyerahan diri seorang pemimpin &#8212; bahasa kasarnya: pengakuan keok.</p>
<p><img class="normal" title="Michael Camdessus dan Soeharto, Januari 1998" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/repro/camdessus-soeharto.jpg" alt="" width="360" height="331" /></p>
<p>Ada yang tersinggung, ada yang bersorak, terhadap foto itu. Alasan Camdessus di kemudian hari sangat menarik. Dia mengikuti ajaran ibunya, yaitu kalau sedang kikuk karena tidak tahu harus berbuat apa ya lipatlah tangan.</p>
<p>Foto-foto selalu menarik. Mirip kita mengamati foto kawan di Facebook. Maka ketika koran-koran mulai dicetak berwarna, rakyat pun sadar akan satu hal: pesawat telepon di meja kerjanya, di Bina Graha, ternyata berlapis emas.</p>
<p>Foto lain yang tak ada urusannya dengan warna adalah sepasang gading gajah di salah satu ruang rumahnya, Jalan Cendana. Ada rak hiasan di sana. Orang yang belum pernah ke sana akan menebak, tak adakah jendela di ruang itu?</p>
<p><img class="kiri" title="soeharto anno 1993" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/repro/soeharto1993.jpg" alt="" width="150" height="192" />Foto resmi kepresidenen edisi 1993, di <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Soeharto" >Wikipedia Indonesia</a>, menampilkan sosok yang berjarak, tak tersentuh. Rambut yang tak tertutup peci tampak memutih. Dalam usia 72 dia masih tampak gagah. Bandingkan empat tahun kemudian, akhir 1997, ketika krisis moneter mulai menghimpit Indonesia. Dia tampak menua sekali dan lelah. Makin banyak yang bersifat kritis terhadapnya, dan mulai terasa pembiaran oleh pihak tertentu terhadap arus yang menentang dan menantangnya.</p>
<p>Foto resmi kepresidenan adalah sebuah kewajaran di negeri mana pun. Menjadi aneh ketika makin banyak orang tak menyukainya, sehingga seorang seorang guru yang mengajar di alma maternya pun menyesal ketika harus bertemu wajah kepala negara yang sama tetapi berbeda edisi. Foto orang yang dia lihat saat dulu bersekolah.</p>
<p>Dan lihatlah, alangkah banyaknya foto mempelai di gedung resepsi yang gebyok atau <em>backdrop</em> pelaminannya tidak bisa menutupi foto presiden dan wakilnya. Seolah kemarin dan hari ini adalah sama saja. Padahal dari waktu ke waktu potret sang presiden berubah. Kesukaan maupun ketidaksukaan kita menghasilkan kesamaan: kebosanan untuk mengamati lebih jauh.</p>
<p>Itulah foto kepresiden yang secara berlebihan dianggap sebagai faktor penambah penduduk Indonesia. Jumlah mutakhir penduduk adalah data terakhir dari pemerintah plus foto presiden (karena saking banyaknya dan terus bertambah). Ngawur tapi menghibur.</p>
<p>Dia adalah tokoh. Penting pula.  Tak mungkin terlupakan. Video awal 80-an sampai pertengahan 90-an menampakkan seorang penguasa yang tak terbantahkan. Ingat bagaimana dia menyatakan akan menggebuk kaum <em>dissident</em>? Tidak meledak, ada senyum dan menahan tawa, tetapi dingin. Semburat kebengisan tergambar di sana.</p>
<p>Dia memang bukan Castro atau Ghaddafi yang kuat mengoceh, tetapi dalam gaya kebapakan dia tetap tak terbantahkan, terutama dalam pidato tanpa teks dan tanya-jawab. Dehemnya sebelum berkata-kata pun punya kekuatan. Inilah era monolog Butet Kertaradjasa dalam menirukan vokal maupun gesturnya menjadi katup pelepas orang-orang tertindas.</p>
<p><img class="normal" title="soeharto main gitar" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/repro/blogombal-soeharto-gitar.jpg" alt="" width="360" height="270" /></p>
<p>Ingatan kita tentang seseorang seringkali berupa gambar di benak. Visual sifatnya. Ingatan apa yang ada di benak Anda tentang dia? Foto resmi itu? Prangko? Atau foto yang lain?</p>
<p>Mari kita tunggu sebuah hasil riset foto terhadap potret Soeharto &#8212; ya, dialah yang saya maksud sejak tadi &#8212; lengkap dengan tafsiran subyektifnya. Termasuk foto-foto yang <em>humane </em>tentang dia. Tentu kita juga harus kritis bahwa foto tunggal, satu versi pula, hanyalah hasil pembekuan sebuah peristiwa. Tanpa memahami konteks kita bisa tergelincir dalam menafsir.</p>
<p>Entahlah siapa yang akan melakukan riset foto. Harapan saya sih Anda. <img src='http://rafkirasyid.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<div class="caption">© Foto-foto lama: <a href="http://www.life.com/image/53372214" >Larry Burrows</a>/Life, Desember 1967 | © Foto Soeharto main gitar: entah | © Foto Camdessus dan Soeharto : entah</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rafkirasyid.com/cobalah-menafsir-foto-dan-video-harto/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Foto-foto Berfilm yang tak Laku</title>
		<link>http://rafkirasyid.com/foto-foto-berfilm-yang-tak-laku/</link>
		<comments>http://rafkirasyid.com/foto-foto-berfilm-yang-tak-laku/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Feb 2010 14:22:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paman tyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Syndicate]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blogombal.org/?p=2017</guid>
		<description><![CDATA[	KELAK AKAN JADI PROYEK SENI VISUAL?
	
	Sekeluar dari ruang resepsi menuju parkiran, kami diikuti seorang pengasong foto. Kami terburu-buru karena masih gerimis. &#8220;Beli dong,&#8221; katanya kepada istri saya. &#8220;Ayo dong Bu,&#8221; katanya kepada seorang ibu yang menumpang kami. Masih gerimis. Kami terburu. Segera masuk ke mobil. &#8220;Beli dong,&#8221; masih terdengar suara itu.
	Ibu yang bersama kami akhirnya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3>KELAK AKAN JADI PROYEK SENI VISUAL?</h3>
<p><img class="alignnone" title="foto-foto berfilm hasil jepretan todong di TMII" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/jalan5/blogombal-foto-TMII01.jpg" alt="" width="360" height="176" /></p>
<p>Sekeluar dari ruang resepsi menuju parkiran, kami diikuti seorang pengasong foto. Kami terburu-buru karena masih gerimis. &#8220;Beli dong,&#8221; katanya kepada istri saya. &#8220;Ayo dong Bu,&#8221; katanya kepada seorang ibu yang menumpang kami. Masih gerimis. Kami terburu. Segera masuk ke mobil. &#8220;Beli dong,&#8221; masih terdengar suara itu.</p>
<p>Ibu yang bersama kami akhirnya tak tega. Entah berapa yang dia keluarkan. Penawaran terakhir yang saya dengar sih Rp 50.000 untuk tiga lembar foto ukuran 5R, masing-masing disertai film negatif. &#8220;Nggak tega aku, Jadi kepikiran anak-anakku nyari makan juga susah,&#8221; kata ibu itu.</p>
<p>Bukan hal baru. Tukang foto dadakan selalu ada di seminar dan wisuda. Mereka bermain di area luar, depan pintu masuk. Itu wilayah aman, termasuk bagi ojek payung. Tak ada alasan bagi petugas keamanan acara untuk menghalau &#8212; kecuali <em>security</em>-nya pejabat dan orang kaya yang selalu memperluas wilayah steril.</p>
<p><img class="alignnone" title="foto-foto berfilm di Taman Mini Indonesia Indah" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/jalan5/blogombal-foto-TMII02.jpg" alt="" width="360" height="189" /></p>
<p>Bukan hal baru, tapi untuk perhelatan nikah seperti di Taman Mini Indonesia Indah itubaru saya jumpai Sabtu malam lalu. Perlu kegigihan karena mereka cukup boros jepretan. Setiap tamu setidaknya butuh dua kali &#8212; padahal memakai film. Baterai kering pemasuk setrum lampu kilat tampaknya cukup.</p>
<p>Saya tak sempat mencari tahu lebih jauh. Sama seperti umumnya blog, yang ada hanyalah tulisan berjarak. Miskin fakta, kaya tafsir &#8212; tanpa pendalaman dan pendekatan terhadap manusia. Maka saya pun hanya berandai-andai.</p>
<p>Tim fotografer penuh inisiatif itu saya amati terdiri dari tiga orang. Yang terluput dari amatan saya adalah peran <em>runner</em>, yang harus membawa film terpakai ke minilab terdekat, di tengah hujan deras.</p>
<p>Entahlah bagaimana pembagian tugasnya. Yang pasti dalam satu setengah jam semua foto harus sudah jadi. Oh itu bukan masalah. Teknologi memberi jalan keluar.</p>
<p>Ada yang lebih menarik: mencocokkan wajah orang yang keluar dari ruang dengan puluhan foto yang terbungkus plastik. Jangan sampai dalam paket terjadi pertukaran, Pak A bersama Nona X, dan Bu Z bersama Pak B. Si tertukar mungkin tak bermasalah, tetapi pasangannya yang kurang berkenan.</p>
<p>Fotografi lama, yang nondigital, bukan untuk &#8220;seni-senian&#8221;, ternyata masih laku. Ini soal &#8220;kahanan&#8221; dan kesesuaian dengan pasar. Ini serupa jepretan Polaroid di taman hiburan. Jangan-jangan memang layak simpan padahal Anda tak ada ikatan emosional dengan pemotretnya.</p>
<p>Saya tak habis pikir soal foto-foto yang tak laku. Kalaupun dibuang mungkin juga tak bermanfaat bagi yang menemukan. Suatu hari akan ada mahasiswa seni rupa, atau blogger iseng sok kreatif, yang &#8220;membingkaikan makna&#8221; terhadap foto-foto tak laku itu lantas memamerkannya.</p>
<p>Barangnya sama. Cuma foto-foto tak laku. Tetapi di tangan orang sekolahan yang &#8220;lebih berkonsep&#8221;, foto-foto itu akan mendapatan ruang dialog baru. Ruang yang mungkin amat jauh dari jelajah kepentingan si pemotret.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rafkirasyid.com/foto-foto-berfilm-yang-tak-laku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

