Tidak ada kota besar di dunia ini yang mampu mengatasi sepenuhnya masalah kemacetan lalu lintas dan polusi, dengan cara membangun lebih banyak jalan raya.
Sejumlah kota besar di dunia ini telah membangun begitu banyak jalan raya (seperti Los Angeles), namun ada pula yang sangat sedikit memperpanjang ruas jalan rayanya (contohnya Shanghai). Namun tingkat kemacetan lalu lintas dan polusi udara di dua jenis kota tersebut hampir sama saja. Pembangunan lebih banyak jalan raya hanya akan mendorong pemilik mobil untuk lebih banyak memakai mobilnya, atau untuk memilih rumah-rumah yang lebih murah di pinggir kota, yang pada akhirnya akan membuat mereka lebih sering memadati jalan-jalan raya.
Sebuah penelitian tentang kemacetan lalu lintas di London menyimpulkan bahwa sekalipun pemerintahnya membelah-belah pusat kota sedemikian rupa untuk membangun jalan-jalan baru, kemacetan lalu lintas tetap saja akan tetap berlangsung.
Para ekonom sejak lama memiliki jawaban teoritis untuk mengatasi peliknya persoalan polusi dan kemacetan lalu lintas tersebut. Yaitu dengan cara mengenakan ongkos pemakaian jalan raya. Mereka menyarankan agar pemerintah memungut bayaran kepada setiap orang yang memakai jalan raya, sesuai dengan jalan apa yang digunakan, pada jam berapa dan musim apa mereka berkendara, serta seberapa banyak polusi udara yang mereka timbulkan. Harga atau ongkosnya harus dibuat sedemikian rupa sehingga pemakaian jalan raya oleh para pengendara menjadi optimal.
Sampai Singapura mencoba menerapkan cara itu, tidak ada kota besar di dunia ini yang berminat atau berani melakukannya. Banyak gagasan yang secara teoritis tampak hebat, namun dalam prakteknya melempem, atau bahkan memunculkan berbagai persoalan yang tidak terduga.
Singapura berhasil menjalankan cara itu bukan karena teorinya hebat, melainkan karena mereka sudah berpengalaman selama bertahun-tahun dan mengatasi berbagai permasalahan yang semula tidak terfikirkan. Sistem pengenaan harga untuk pemakaian jalan raya itu ternyata berhasil mengatasi kemacetan lalu lintas. Singapura adalah satu-satunya kota di muka bumi ini, yang bebas dari masalah kemacetan lalu lintas maupun polusi udara akibat kendaraan bermotor.
Di Singapura, ada sejumlah jalan tol di sekeliling pusat kota. Untuk mencapai pusat kota, setiap mobil harus membayar karcis tol yang harganya bervariasi, tergantung jalan raya mana yang dipakai, jam berapa mobil itu lewat, dan tingkat polusi yang terjadi pada hari itu. Setiap harga di sesuaikan, dinaik-turunkan, agar pemakaian jalan bisa seoptimal mungkin.
Selain itu, Singapura juga menghitung jumlah maksimum kendaraan yang boleh lalu-lalang di semua jalan, agar polusinya dapat dikendalikan. Lisensi atau hak pengadaan mobil baru dilelang setiap bulannya. Plat nomor setiap mobil dibedakan sesuai dengan izin pemakaiannya. Plat nomor yang memungkinkan sebuah mobil dipakai kapan saja jelas lebih mahal daripada plat yang hanya memungkinkan pemakaian mobil pada akhir pekan saja. Harga plat itu sendiri bisa berubah-ubah sesuai dengan permintaan dan penawaran yang ada.
Dengan pengaturan seperti ini, Singapura tidak terjebak pada proyek-proyek pembangunan jalan raya besar-besaran, yang pada akhirnya hanya menjadi pemborosan. Adanya pendapatan dari pungutan biaya pemakaian jalan raya juga dapat dimanfaatkan untuk menurunkan pajak-pajak yang lain.
Artikel ini saya sumbangkan sebagai bentuk rasa prihatin terhadap pembangunan jalan-jalan baru untuk bus TransJakarta, yang terbukti tidak memberikan manfaat apa-apa bagi pengurangan kemacetan di Jakarta.
Sumber Foto: thestargazer.files.wordpress.com









Recent Comments