Membaca berita di kompas dot com tentang Aris Idol yang punya wanita idaman lain (WIL) sungguh membuat saya tercenung. Ternyata uang dan ketenaran memang bisa merubah tabiat dan watak seseorang. Aris yang dulunya dikhabarkan sangat setia dan sayang sama anak istrinya, tiba-tiba berubah seratus delapan puluh derajat menjadi tidak peduli bahkan jarang pulang.
Masih terbayang oleh saya ketika Fany sang istri yang begitu setia mendampingi dan memberi semangat kepada Aris untuk memenangi ajang lomba pencarian bakat ini. Betapa dalam fikirannya saya yakin berkelebat bayangan kebahagiaan jika Aris menang. Di mana, apa yang menjadi kesusahan mereka selama ini yaitu keadaan ekonomi yang kian menghimpit akan bisa segera diatasi dengan uang yang Aris dapatkan sebagai pemenang dan tentunya uang dari kontrak-kontrak rekaman dan manggungnya Aris sebagai pemenang Indonesian Idol.
Tapi apa mau dikata, bayangan tentunya tidak selalu bisa hadir sama indahnya dengan kenyataan. Bukannya mendapatkan kebahagiaan malahan Fany seolah sudah kehilangan Aris. Bahkan sang Anak yang tak tahu apa-apa ikut kehilangan kasih sayang dari ayahnya. Bahkan dalam wawancara di sebuah stasiun televisi, saya sempat mendengar kalau Fany lebih menyukai kehidupannya yang dulu yang serba kekurangan tapi selalu dipenuhi kehadiran Aris, dibanding kehidupan sekarang yang berkecukupan tapi minus kehadiran sang suami.
Boleh percaya atau tidak, saya sebenarnya jarang mengikuti acara-acara sejenis Indonesian Idol ini. Tapi ketika saya melihat Aris pada tahap seleksi awal, maka saya terkesiap mendengar suaranya dan salut dengan latar belakangnya sebagai seorang pengamen. Saya bahkan bisa meramalkan pada waktu itu, inilah yang akan jadi Indonesian Idol tahun ini. Akhirnya semenjak saat itu saya mengidolakan Aris sebagai pemenang.
Namun, dari gayanya Aris berbicara dan penampilannya di panggung hati nurani saya mengatakan bahwa sebaiknya Aris tidak menang. Karena saya bisa menilai pada waktu itu bahwa Aris akan lupa daratan setelah dia menjadi pemenang. Ternyata dugaan awal saya tidak meleset jauh.
Aris sekarang sudah menjadi orang beken. Nama Aris Idol berkumandang dari mulut ke mulut masyarakat. Namun secara psikologis Aris yang dulu tidak sama lagi dengan Aris yang sekarang. Aris yang dulu sangat menyayangi keluarganya sekarang sudah berubah menjadi Aris yang mabuk dengan segala apa yang dipunyainya. Saya teringat Sabda Nabi Muhammad SAW, bahwa tiga hal yang paling berbahaya dan perlu diwaspadai di dunia ini adalah harta, tahta, dan wanita. Sekarang ini Aris dihampiri oleh ketiganya sekaligus dan dalam tempo waktu yang begitu singkat. Cukup manusiawi juga sebenarnya kalau Aris dibuat mabuk oleh karenanya.
Saya mengambil hikmah dari fenomena ini. Bagaimana jika fenomena Aris Idol ini menimpa diri saya pribadi? Akankah saya bisa tetap teguh dengan sifat dan tingkah laku saya yang sekarang? Ataukah saya juga akan mabuk seperti apa yang dialami Aris? Entahlah……
Sumber foto: kompas.com









Recent Comments