Ritual akhir tahunan dimulai. Dimana, hari ini rapat tripartit (pekerja, pengusaha, dan pemerintah) telah dilaksanakan. Artinya suhu bisnis di seluruh Indonesia khususnya di Batam mulai kembali gonjang-ganjing. Setelah kemarin didera rasa khawatir akibat krisis ekonomi global dan naiknya tarif listrik di Batam, maka kali ini kekhawatiran berikutnyapun datang. Yaitu suasana yang sedikit kurang kondusif ketika pembahasaan Upah Minimum Kota Batam terjadi. Artinya berdasarkan pengalaman pada tahun-tahun sebelumnya, rapat-rapat pembahasan UMK ini selalu diwarnai oleh aksi demonstrasi pihak buruh dan pekerja di Batam.
Satu hal yang berbeda dalam rapat pembahasan UMK kali ini adalah masuknya saya sebagai anggota dewan pengupahan Kota Batam mewakili unsur pengusaha, dalam hal ini Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo). Kalau sebelumnya saya lebih banyak berbicara di media sebagai pengamat ekonomi, maka kali ini kalau saya berbicara tentunya membawa nama dan mewakili Apindo Kota Batam.
Senang rasanya berada dalam satu tim dengan rekan-rekan pengusaha senior di Batam. Dari unsur Apindo, kami terdiri dari saya, GM Kawasan Industri Batamindo Bpk. Dr. Jhon Sulistiawan, GM Kabil Industrial Estate Bpk. Oka Simatupang, Mantan Ketua Kadin Kota Batam Bpk. Januar Dahlan, Sekretaris Apindo Kota Batam Bpk. Chandra, dan Pengacara SouthLinksgolf Bpk. Enrico, SH.
Tidak banyak yang dibicarakan dalam rapat pertama hari ini. Agenda hari ini hanya membahas seputar pembahasan tata tertib rapat. Rapat berlangsung sekitar satu jam lima belas menit. Tatib rapat untuk rapat-rapat selanjutnya akhirnya dapat di setujui dengan beberapa perubahan dari rancangan tatib yang diajukan oleh Dinas Tenaga Kerja Kota Batam selaku Ketua Dewan Pengupahan Kota Batam.
Saya berharap pandangan bahwa dalam rapat-rapat pembahasan seperti ini antara pengusaha dan serikat pekerja memiliki sebuah gap, dapat dihilangkan. Walau bagaimanapun dalam rapat-rapat seperti ini kita mencari kesepakatan bukan perpecahan. Saya berharap pada rapat pembahasan UMK tahun ini tidak terjadi deadlock seperti rapat-rapat tahun sebelumnya. Diharapkan kebesaran hati dan keterbukaan masing-masing pihak untuk bisa memaklumi bahwa kita semua mewakili banyak kepentingan yang ujung-ujungnya adalah menentukan nasib hidup orang banyak.
Beberapa hal yang saya prediksi akan menjadi ganjalan dalam rapat-rapat pembahasan UMK kali ini adalah kondisi ekonomi global yang masih belum pulih dan agenda Pemilihan Umum yang sudah semakin dekat. Ekonomi global yang memburuk dapat membuat pengusaha mengurangi karyawan kalau seandainya order dari langganan yang notabene berasal dari luar negeri, menurun.
Dari sisi politis, kita tahu bahwa permasalahan UMK selalu menjadi bahan jualan politik bagi anggota legislatif maupun bagi calon anggota legislatif. Dekatnya masa penyelenggaraan Pemilu dengan pembahasan UMK kali ini, akan memberikan tekanan kepada kami pengusaha dalam rapat-rapat pembahasan UMK ini. Sebab sudah hampir bisa dipastikan bahwa opini-opini para pelaku politik ini akan cenderung memihak kepentingan serikat pekerja dengan harapan imbalan suara pada Pemilu mendatang.
Kita hanya bisa berharap supaya pembahasan UMK tahun ini jangan terlalu dipolitisir. Karena pembahasan UMK bukanlah masalah menang-kalah tapi masalah kesepakatan bersama. Janganlah sampai pembahasan UMK tahun ini kembali diserahkan kepada keputusan gubernur. Biarlah kita, dewan pengupahan yang merekomendasikan angka, sehingga gubernur cukup menandatangani pengesahan saja.
Mudah-mudahan menjelang selesai pembahasan UMK Kota Batam ini sampai tanggal 20 November 2008 nanti, ekonomi tetap dalam kondisi stabil dan suhu politik belum terlalu panas. ![]()









Recent Comments