Sinergi di zaman yang berubah serba cepat seperti sekarang ini mungkin menjadi salah satu kata yang paling populer. Ketika banyak mahasiswa menanyakan definisi dari kata “sinergi” ini, saya lebih suka menjawabnya dengan persamaan matematika berikut:
- Sinergi adalah jika: 1 + 1 = 3
Sederhananya, sinergi berarti Anda dapat menghasilkan sesuatu yang Anda semua tidak bisa membuatnya sebelumnya. Dan hasil yang Anda capai jauh lebih banyak daripada jika Anda melakukannya sendiri-sendiri.
Namun dalam praktek, seringkali kita terjebak kepada sinergi negatif ataupun kompromi. Saya mendefinisikan sinergi negatif dan kompromi ini sebagai:
- Kompromi adalah jika : 1 + 1 = 1,5
- Sinergi negatif adalah jika : 1 + 1 = 0,5.
Sering muncul pertanyaan apa yang menyebabkan kita sering jatuh kepada kompromi dan sinergi negatif, bukannya sinergi positif? Menurut saya penyebab utama adalah terjadinya konflik dan penyembunyian informasi serta sikap defensif yang sangat menguras energi. Siapapun yang pernah mengalami konflik yang berkepanjangan saya yakin akan menyadari bahwa produktivitasnya sangatlah rendah selama proses konflik itu terjadi.
Selanjutnya, pasti akan muncul pertanyaan lanjutan: Apa kunci dari mewujudkan sinergi positif? Dalam hal ini saya setuju dengan jawaban Steven R. Covey. Menurut Covey kunci untuk menciptakan sinergi adalah “Always value differences“. Yup, sinergi bisa diciptakan dengan selalu menghargai perbedaan.
Menghargai perbedaan bukanlah berarti hanya menyadari bahwa ada perbedaan. Bukan juga hanya sekedar memiliki toleransi terhadap perbedaan. Ataupun terpaksa menerima perbedaan karena adanya aturan yang mengaturnya. Namun, menghargai perbedaan berarti merayakan perbedaan tersebut dengan setulus-tulusnya. Ya, merayakan (celebrate) terjadinya perbedaan. Satu lagi kutipan menarik dari Covey adalah : “Strenght lies in differences, not in simmilarities“.
Di tengah perayaan hari kemerdekaan yang baru saja berlalu, saya sangat cemas dengan semakin membuncahnya sinergi negatif di tengah-tengah masyarakat belakangan ini. Sinergi negatif yang memunculkan prasangka, kecurigaan, dan ketertutupan yang ujungnya adalah kekacauan dan perpecahan. Semua ini muncul akibat kita tidak mau dan tidak mampu menghargai perbedaan. Integritas bangsa ini sedang dipertaruhkan. Keutuhan kita selaku warga negara yang sebangsa dan setanah air sedang diuji.
Ingatlah bahwa sinergi membutuhkan : (1) Rasa memiliki tujuan yang sama, (2) Rasa memiliki makna yang sama, dan (3) Rasa memiliki misi yang sama. Dengan tiga hal inilah karang seterjal apapun akan bisa kita daki bersama. Dengan tiga hal inilah lautan sedalam apapun akan kita selami bersama. Dengan tiga hal inilah musuh sekuat apapun akan kita kalahkan bersama. Tapi ingat, hal ini akan mudah dipatahkan jika kita terlalu fanatik terhadap satu agama sehingga menganggap hanya agama kita yang paling benar, jika kita terlalu menganggap suku kita lebih superior daripada suku lainnya, dan ketika kita memaksakan merubah keanekaragaman menjadi keseragaman.
Sungguh luas pemikiran orang-orang yang menelorkan ide “Bhineka Tunggal Ika”. Bapak-Bapak bangsa ini telah memikirkan “sinergi”, bahkan sebelum kata “sinergi” itu begitu populer seperti sekarang ini. Sungguh cerdas dan berfikiran luas.
Ingatlah saudara dan para sahabat, “Kekuatan itu terletak pada perbedaan bukan pada persamaan”.









Recent Comments