Malam ini tugas melelahkan selama empat bulan belakangan tuntas juga. Yaitu menjadi penentu nomor urut calon legislatif untuk tingkat propinsi dari Partai PAN Propinsi Kepulauan Riau. Malam ini saya juga mendapat pelajaran berharga. Di mana begitu menyenangkan ternyata ketika kita bisa berpegang teguh pada aturan yang sudah kita buat bersama.
Saya merupakan pengurus harian Dewan Pimpinan Wilayah Partai Amanat Nasional (PAN) Propinsi Kepulauan Riau. Satu tempat sudah tersedia buat saya sebagai calon legislatif pada Pemilu mendatang. Tapi entah kenapa saya tidak memiliki hasrat sedikitpun untuk menjadi anggota dewan yang terhormat itu, minimal untuk saat ini. Sehingga jauh-jauh hari saya sudah menyatakan diri secara tertulis untuk tidak bersedia dicalonkan menjadi calon legislatif untuk Pemilu 2009 ini. Jadilah akhirnya saya dipercaya sebagai tim evaluasi dan monitoring Bakal Caleg dari PAN Propinsi Kepri. Sebab saya dianggap berada pada posisi yang netral untuk menjadi juri.
Tidak terbayangkan betapa tekanan yang datang bertubi-tubi ke tim kami. Mulai dari ancaman sampai kepada tawaran materi agar si Bakal Caleg bisa didudukkan di nomor urut jadi. Padahal khusus untuk PAN sendiri, nomor urut tidaklah berlaku. PAN memutuskan memakai sistem suara terbanyak untuk Pemilu 2009 ini. Tapi entah kenapa masih saja nomor urut jadi diperebutkan di partai ini. Mungkin para Bakal Caleg ini hanya omong besar memiliki masa ribuan orang, sehingga ketika diletakkan dinomor bawah maka timbul rasa kurang percaya diri.
Dalam rapat-rapat tim saya menegaskan kepada anggota tim supaya tidak berpihak kepada siapapun dalam mengambil keputusan. Saya menyampaikan bahwa cara teraman dan terindah dalam kondisi konflik internal saat ini adalah berdiri dan berpegang teguh pada aturan partai. Saya juga mengatakan bahwa sekali saja kita memperlihatkan keberpihakkan kita kepada salah satu pihak, maka kita akan tergencet di tengah-tengah. Untunglah semua anggota tim memahami posisi ini dan menyetujui usulan saya. Jadilah kami berpegang teguh pada aturan dan acuan yang ada tanpa mempedulikan intervensi dari siapapun. Bahkan keinginan ketua DPW pun tidak kami akomodir sama sekali.
Ketika rapat penyampaian laporan hasil evaluasi dan monitoring dilakukan memang banyak muncul ketidakpuasan dari orang-orang yang merasa tidak diuntungkan dengan keputusan kami. Tapi kami dengan sangat transparan menyampaikan semua dasar keputusan kami. Bahkan sistem penilaian paling rumitpun kami paparkan di dalam rapat. Akhirnya semua tidak bisa berbicara lagi. Termasuk yang tadinya tidak puas hanya bisa menyimpan ketidakpuasannya dalam hati. Karena hasil kerja kami memang tidak memiliki celah untuk dipersalahkan. Sebab kami berpegang pada aturan yang telah dibuat.
Alhamdulillah, malam ini tugas kami selesai dengan hampir sempurna tanpa ada kendala yang berarti. Padahal, dalam Pemilu-Pemilu terdahulu, hampir selalu terjadi gesekan fisik dan bentakan-bentakan tidak mengenakkan dalam rapat-rapat seperti ini. Untunglah untuk Pemilu sekarang ini semua dilalui dengan mulus.
Hanya saja seperti masalah yang dihadapi oleh Dewan Pimpinan Pusat PAN, kami masih menghadapi masalah kekurangan caleg perempuan. Padahal syarat 30% caleg perempuan adalah syarat wajib untuk setiap partai agar bisa mendaftar di KPU. Tapi sampai tenggang waktu pendaftaran ke KPU tanggal 14 Agustus 2008 nanti, kami yakin kuota perempuan ini akan segera terpenuhi.
Semoga pengalaman ini memberikan tambahan pemahaman kepada kita semua betapa indahnya berpegang pada aturan itu. Kita tidak memiliki rasa takut berhadapan dengan siapapun selagi kita benar secara normatif. Saya sudah membuktikannya malam ini. Bahkan orang-orang yang tadinya merasa dirugikan dengan keputusan kami berbalik memuji keprofesionalan tim kami.
*Mohon maaf kepada pengurus PAN yang membaca postingan di blog ini saya tidak bisa mencantumkan lambang PAN di sini karena ini adalah blog pribadi.









Recent Comments