Ini bukan apa-apa lho. Jangan diartikan ancaman di sini sebagai ancaman militer atau ancaman serbuan produk murah dari Vietnam. Ancaman ini lebih berupa ancaman yang pernah terjadi dan di alami oleh Indonesia sekitar tahun 1997 yang dikenal waktu itu dengan istilah krisis moneter (Krismon). Bedanya, waktu itu ancaman justru datang dari Thailand bukannya Vietnam.
Setelah beberapa tahun terakhir disebut-sebut sebagai macan baru Asia, China Mini, atau The Next China, dan dalam satu dekade terakhir ekonominya tumbuh rata-rata 7,5 persen, mesin perekonomian Vietnam sepertinya mulai kepanasan. Tingkat inflasi per Mei lalu (year on year) menyundul angka 25,20 persen. Ini angka tertinggi di Asia. Bandingkan dengan inflasi Indonesia yang hanya 10,4 persen yang dihitung setelah kenaikkan harga BBM.
Spekulasi di sektor properti, penyaluran kredit yang kelewat ekspansif, dan kenaikkan harga bahan bangunan punya andil mengerek harga-harga. Melonjaknya harga minyak bumi, pangan, dan baja di dunia semakin menambah derita rakyat Vietnam. Akibatnya, Bank Sentral Vietnam mendevaluasi nilai dong (mata uang Vietnam) dua persen dari 16.139 dong per dolar Amerika Serikat menjadi 16.481. Target pertumbuhan ekonomi pun dipangkas dari sembilan persen menjadi tujuh persen.
Saat ini, pemerintah Vietnam terperangkap dalam dilema besar. Bila menaikkan suku bunga kelewat tinggi, bisa jadi membuat debitur perbankan gagal bayar dan memicu krisis perbankan. Cara ini juga bakal semakin menekan laju ekonomi. Memangkas nilai dong membuat harga barang impor menjadi lebih mahal. Makanya hal ini bukanlah tugas mudah bagi pemerintah Vietnam.
Dari indikasi-indikasi ekonomi yang terbaca saat ini dan prediksi ekonomi di masa depan, tampaknya ekonomi Vietnam ini akan terus berada dalam lingkaran masalah, bahkan banyak ahli yang meramalkan akan semakin parah. Mengingat bahwa harga minyak mentah dunia masih terus memperlihatkan trend menaik.
“Badai dari negara tetangga” yang juga seperti inilah dulu pernah menyapu Indonesia, sehingga memporakporandakan bangunan ekonomi Indonesia. Sejumlah analis sudah meramal bahwa badai yang saat ini terjadi di Vietnam, perlahan-lahan akan menyapu ke negara-negara di sekitarnya, termasuk Indonesia.
Kondisi sedikit berbeda yang mungkin dapat menyelamatkan Indonesia dari krisis ekonomi kedua adalah bahwa saat ini Indonesia masih membukukan neraca perdagangan yang surplus. Dimana, ekspor barang-barang dari Indonesia masih melebihi angka barang-barang yang masuk ke Indonesia (impor).
Namun, dalam hal ini kita tidak boleh lengah, karena semuanya tergantung tingkah-polah masyarakat. Ketika masyarakat tidak mampu mengerem hasratnya untuk belanja, apalagi membeli barang-barang impor (termasuk bepergian ke luar negeri), maka angka impor Indonesia akan melonjak dan inflasi sulit dicegah. Dalam hal ini diperlukan kerjasama yang solid antara pemerintah dan masyarakat, kalau kita tidak mau dihempaskan kembali ke jurang krisis ekonomi.
Banyak ahli memperkirakan bahwa, badai dari Vietnam ini akan terlebih dahulu menghantam negara-negara sekitar yang mengalami defisit neraca perdagangan dan mengalami inflasi tinggi (high inflation). Negara yang dituding saat ini diramalkan akan terkena adalah India dan Philipina. Namun walaupun begitu, sekali lagi kita tidak boleh lengah. Sebab, arah angin biasanya tidak dapat diduga.
HT: Umrahkepri









Recent Comments