Tingginya Suku Bunga Kredit
Oleh: Ryan Kiryanto
Sepanjang tahun lalu dan diperkirakan masih berlanjut tahun ini, masalah persepsi tingginya suku bunga kredit perbankan masih terus bergulir. Perbandingannya memang cukup nyata. Suku bunga acuan atau BI ratesudah turun mendekati 350 basis poin, tapi suku bunga kredit baru turun sekitar 200 basis poin. Jadi, jauh lebih responsif bank sentral dalam menurunkan BI rate ketimbang respons perbankan dalam menurunkan suku bunga kredit.
Respons Bank Indonesia awal bulan ini yang menahan BI ratetetap di level 6,5% (dan diperkirakan masih akan berlanjut hingga akhir semester pertama tahun ini) mengindikasikan bahwa pilihan terbaik memang hanya menjaga agar stance suku bunga tetap stabil.
Bank sentral melihat bahwa proyeksi inflasi ke depan cenderung menguat seiring dengan pemulihan ekonomi dunia yang berdampak pada lonjakan permintaan komoditas. Memang kalau melihat ke belakang, laju inflasi tahunan (2009) hanya 2,78% seolah memberikan harapan besar bahwa BI harus menurunkan suku bunga acuan.
Pandangan itu tak sepenuhnya salah. Namun, perlu dicatat bahwa pertimbangan bank sentral dalam mengelola dan menetapkan suku bunga acuan sebagai suatu jangkar pengelolaan kebijakan moneter lebih menitikberatkan kepada ekspektasi inflasi yang akan terjadi. Cerita soal inflasi masa lalu hanya sekadar referensi belaka, tapi dasar pertimbangan utama adalah memproyeksikan laju inflasi ke depan.
Titik pijak bank sentral dalam menetapkan BI rateini kerap tidak dipahami masyarakat. Ini terlihat dari proyeksi BI ratedi bulan-bulan berikutnya yang berbeda dengan ekspektasi masyarakat.
Perbedaan itu disebabkan titik pijak pemahaman soal dasar pertimbangan penetapan suku bunga acuan yang beragam. Padahal kalau dilihat dari aspek inflation targetting framework yang dikomunikasikan bank sentral melalui website-nya, jelas bank sentral memberikan pertimbangan dominan kepada ekspektasi inflasi. Bukan kepada inflasi yang sudah terjadi.
Dengan mempertimbangkan bahwa saat ini tengah terjadi gejala kenaikan inflasi secara global sebagai respons atas perbaikan perekonomian di berbagai negara maju (advance economies), cepat atau lambat hal ini juga akan menerpa Indonesia.
Pengumuman Badan Pusat Statistik (BPS) bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 4,5% sepanjang tahun lalu dan sekitar 5,7% pada kuartal pertama tahun ini mengindikasikan secara jelas bahwa tingkat konsumsi dalam negeri masih menjadi andalan pendorong pertumbuhan. Pola seperti ini diperkirakan masih akan berlanjut tahun ini sebagai respons konsumtif masyarakat atas dicapainya tingkat penghasilan yang lebih baik.
Dengan demikian, cepat atau lambat BI juga akan menyesuaikan suku bunga acuannya mengikuti gerakan inflasi yang ditengarai bakal menguat mulai kuartal ketiga nanti. Dengan membaiknya perekonomian suatu negara, masyarakat cenderung untuk melakukan tindakan konsumtif. Ini memang tidak salah dan tidak patut disalahkan karena dengan konsumsi terlihat bahwa dinamika perekonomian bergerak. Sisi supply and demand akan bergerak secara natural.
Permintaan agregat dari masyarakat yang melonjak bakal mendorong ekspansi dunia usaha. Dampaknya, permintaan kredit akan menguat. Di sisi lain, potensi inflasi menguat juga semakin terbuka dari sisi demand pull inflation (karena kenaikan permintaan), diikuti oleh cost push inflation (karena kenaikan harga di tengah kelangkaan barang).
Di luar dua jenis inflasi tadi, masih ada lagi yang namanya inflasi musiman (seasonal inflation) seperti pada Juni-Juli saat terjadi pergantian tahun ajaran baru bagi anak-anak sekolah. Sektor pendidikan di bulan-bulan ini biasanya akan memberikan sumbangan inflasi yang cukup signifikan.
Lalu pada September-Oktober terkait dengan perayaan Idul Fitri yang sudah menjadi tradisi saat sektor makanan dan minuman serta transportasi dan telekomunikasi akan memberikan sumbangan inflasi yang signifikan pula. Terakhir pada Desember, adanya perayaan Natal dan Tahun Baru juga akan mengerek inflasi karena lonjakan permintaan sembako (makanan dan minuman), transportasi, dan telekomunikasi.
Proyeksi inflasi yang kian tinggi daripada tahun lalu sudah terlihat dalam asumsi RAPBN 2010 yang asumsi inflasinya ditetapkan 5,3%. Bahkan, sejumlah ekonom meramalkan inflasi bisa lebih dari level itu. Pasalnya, dorongan kenaikan harga minyak internasional yang diprediksi berkisar US$80-US$85 per barel juga memberikan kontribusi bagi inflasi dari sisi impor (imported inflation).
Dari ilustrasi di atas, cepat atau lambat inflasi memang akan bergerak naik. Alhasil, kenaikan BI ratehanyalah soal waktu. Sejumlah ekonom meramalkan BI rateakan berada di level 7% akhir tahun ini dengan membandingkan laju inflasi yang berkisar 5,0%-5,5%. Tentu masyarakat dan dunia usaha bakal resah apabila potensi kenaikan BI ratebakal diikuti secara naif oleh kalangan perbankan.
Oleh karena itu, diharapkan, perbankan tidak menaikkan suku bunga kreditnya meski menghadapi tekanan inflasi ke depan yang mungkin akan memicu BI sedikit mengetatkan kebijakannya dengan menaikkan BI rate. Dengan proyeksi inflasi 2010 sebesar 5,0%-5,5%, BI ratediperkirakan akan meningkat 25-50 basis poin di level 6,75%-7,0% akhir tahun ini. Meski demikian, perbankan sebaiknya tidak harus ikut-ikutan menaikkan suku bunga kredit.
Dengan tidak naiknya suku bunga kredit, hal itu akan mendukung pertumbuhan ekonomi yang akan menggeliat pada 2010. Untuk itu, perbankan dapat mengoptimalkan efisiensi operasionalnya dan sedikit berkorban menurunkan net interest margin (NIM) atau selisih bunga pinjaman kredit dengan bunga dana. Tentu dengan dibarengi strategi menggenjot fee-based income (pendapatan dari transaksi keuangan) untuk mengompensasi turunnya NIM.
Sementara itu, sampai akhir tahun lalu, NIM perbankan yang 6,23% dinilai masih di atas pola normalnya perbankan Indonesia, yaitu 4,5%-5,0%. Namun, pada Januari 2010, NIM perbankan telah turun sebesar 0,15% menjadi 6,08%. Dengan efisiensi operasional yang baik dan manajemen risiko kredit yang ketat sehingga kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) dapat ditekan, ada peluang perbankan tidak latah menaikkan suku bunga kredit.
Pada akhirnya, penetapan suku bunga kredit berada dalam kendali bank, tidak semata-mata mengacu kepada BI rate. Alhasil, harapan untuk mendorong pertumbuhan kredit berkisar 20%-25% tahun ini guna menopang pencapaian pertumbuhan ekonomi 5,8% dapat diwujudkan.
Sumber: MediaIndonesia.Com